Tobat
dan Raja’
A. Bertobat
Artinya : “Sesungguhnya
Allah itu menyukai orang-orang yang tobat kepada-Nya dan dia menyukai
orang-orang yang membersihkan diri.” (QS Al Baqarah : 222)
Tobat adalah proses menyadari
kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak
melakukannya kembali atau permohonan ampun kepada Allah SWT atas
kesalahan
(kekhilafan) dan atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya (keterangan
selanjutnya
lihat QS An Nur ; 31, Ali Imran : 90, An Nisa : 110, Al Maidah : 34 dan
At
Tahrim :
Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : “Sesungguhnya
Allah
menerimatobat hambanya selagi ia belum tercungak-cungak hendak mati
(nyawanya berbalik-balik dikerongkongan).” (HR Ahmad)
Kesalahan atau kekhilafan yang dilakukan
terhadap
orang lain, diantaranya seperti hal-hal berikut.
1. Tidak
memuliakan anak yatim piatu, tidak menganjurkan
dan memberi makan orang miskin, memakan harta dengan mencampuradukkan
yang hak
dengan yang bathil dan mencintai harta yang berlebihan (lihat QS Al
Fajr:
15-20)
2. Bakhil,
merasa tidak cukup dan mendustakan pahala yang
baik (lihat QS Al Lail : 1-13)
3. Mengumpat,
mencela, prasangka dan olok-olok (lihat QS
Al humazah : 1, dan Al Hujurat : 11-13)
4. Tidak
melaksanakan rukun Islam, terutama mendirikan
salat
2. Ada beberapa kriteria orang yang
bertaubat.
a. Orang
yang bertaubat sesudah melakukan kesalahan.
Orang ini diampuni dosanya
b. Tobat
seseorang ketika hampir mati atau sekarat. Tobat
semacam ini sudah tidak dapat diterima
c. Tobat
nasuha atau tobat yang sebenar-benarnya. Tobat
nasuha adalah tobat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh atau
semurni-murninya. Tobat semacam inilah yang dinilai paling tinggi.
Tobat nasuha dapat dilakukan degan
proses sebagai
berikut.
a. Segera
mohon ampun dan meminta tolong hanya kepada
Allah (QS An Nahl : 53)
b. Meminta
perlindungan dari perbuatan setan atau
iblisdan ari kejahatan makhluk lainnya. (QS An Nas : 1-6, Al Falaq :
1-5, dan
An Nahl : 98)
c. Bersegera
berbuat baik atau mengadakan perbaikan,
dengan sungguh-sungguh, sesuai keadaan, tidak melampaui batas, dan
hasilnya
tidak boleh diminta segera (QS Al A’raf : 35, Hud : 112, Al Isra’ :
17-19, Al
Anbiya : 90&37, Az Zumar : 39) serta sadar karena tidak semua
keinginan
dapat dicapai. (QS An Najm : 24-25)
d. Menggunakan
akal dengan sebaik-baiknya agar tak
dimurkai Allah (QS Yunus : 100) dan menggunakan pengetahuan tanpa
mengikuti
nafsu yang buruk (QS Hud : 46 dan Ar Rum : 29) serta selalu membaca
ayat-ayat
alam semesta Al Qur’an (QS Ali Imran : 190-191), mendengarkan perkataan
lalu
memilih yang terbaik (QS Az Zumar : 18), dan bertanya kepada yang
berpengetahuan jika tidak tahu (QS An Nahl : 43)
e. Bersabar
(QS Al Baqarah : 155-157) karena kalau tidak
sabar orang beriman dan bertakwa tidak akan mendapat pahala (QS Al Qasas
: 30)
f. Melakukan
salat untuk mencegah perbuatan keji dan
munkar (QS Al Ankabut : 45) dan bertebaran di muka bumi setelah selesai
salat
untuk mencari karunia Allah dengan selalu mengingatnya agar beruntung
(QS Al
Jumuah : 9-10)
g. Terus
menerus berbuat baik agar terus menerus diberi
hikmah (QS Yusuf : 22, Al Qasas : 4, Al Furqan : 69-71, At Taubah : 11
dan Al
mukmin : 7)
Untuk bisa dinyatakan sebagai tobat
nasuha, seseorang harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut.
a. Harus
menghentikan perbuatan dosanya
b. Harus
menyesalai perbuatannya
c. Niat
bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi
perbuatan dosa itu lagi. Dan mengganti dengan perbuatan yang baik, dan
apabila
ada hubungan dengan hak-hak orang lain, maka ia harus meminta maaf dan
mengembalikan
hak pada orang tersebut.
Raja’
1.Pengertian raja’
Raja’ menurut pengertian bahasa
ialah mengharap.Sedangkan menurut istilah ialah sikap mengharap ridha,
rahmat,
dan pertolongan Allah SWT , serta yakin bahwa semua itu dapat diraih.
Imam
Al-Gazali mengatakan bahwa raja’ adalah kegembiraan hati karena menanti
harapan
yang kita senangi , dan harapan yangkita nantikan itu harus disertai
dengan
usaha dan doa.
2.Sifat raja’
1. Optimis,
yaitu penenang hati, karena yakinatas
kehendak-Nya segala yang kita inginkan akantercapai,sehingga orang akan
menjadi
sabar , tidakputus asa , dan percaya pada diri sendiri (Q.S. Yusuf : 87)
2. Dinamis,
yaitu suatu sikap yang terus-menerusdan
selalu berkembang , baik dalam berpikir, bekerja, bermasyarakat dan lain
sebagainya
(Q.S. Al-Insyirah: 71).Rasulullah SAW bersabda “bekerjalah kamu untuk
duniamu ,
seakan-akan kamu hidupselama-lamanya.Dan bekerjalah kamu untukakhiratmu,
seakan-akan kamu akan mati esok.” (H.R.Ibnu Majah)
Adapun
ciri-ciri orang yang dinamis ,diantaranya :
1. Selalu
memikirkan dan meniliti alam semesta ,bahwa
sanya seluruh ciptaan Allah diperuntukkan bagi kepentingan hidupmanusia
(Q.S.
Yunus101 dan Q.S. Al-Baqarah : 292) Lebih berperan aktif bagi
kepentingan
umumdaipada kepentingan pribadi (Q.S. Ali ‘Imran: 104 dan Q.S. At-Taubah
: 105
)
2. Memiliki
azas keseimbangan (Q.S. Al-Qasas :77)
3. Memiliki
semangat dalam melakukan suatupekerjaan dan
berkarya (Q.S. Al – Insyirah :7)
4. Mampu
mengadakan perubahan dalam tata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar